TUGAS INDIVIDU
Mata
Kuliah : Teknologi Pendidikan
Dosen
: DR.Ari Basuki.M.Pd
Disusun Oleh:
VIDYANITA
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) III
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) MIFTAHUL`ULUM TANJUNGPINANG
Kata Pengantar
Assalamualaikum
wr.wb
Alhamdulillah
puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat-nikmatnya, serta
memberikan ilmu pengetahuan. Sehingga kami bisa menyelesaikan sebuah Makalah .
Shalawat
dan salam semoga tetap tercurah dan terlimpah kepada seorang manusia biasa yang
mempunyai akhlak yang sangat mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga,
sahabat, serta pengikutnya yang istiqomah menjalankan sunnah-sunnah dari dulu,
sekarang hingga hari pembalasan Allahumma salli ‘ala Muhammad.
Selesai
makalah ini, tentunya tidak lepas dari bimbingan dosen DR Ari Basuki M.Pd.
serta keluarga yang selalu mendukung, untuk itu kami khususnya, dan memberikan
banyak manfaat kepada pembaca pada umumnya. Sesuai dengan sabda Rasulullah
SAW.”Sebaik-baik di antara manusia sekalian, ialah orang yang memberi manfaat kepada orang lain.
Tanjungpinang, 12 januari 2015
Penulis
Daftar
Isi
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB
I PENDAHULUAN 1
A.
Latar Belakang 1
B.
Rumusan Masalah 1
C.
Tujuan Penulisan 2
D.
Kegunaan Penulisan 3
E.
Metode Penulisan 3
BAB
II PEMBAHASAN 2
a.
Domain atau
wilayah teknologi pendidikan 4
b.
Makna, Fungsi
beserta Peran Kawasan Teknologi Pendidikan 8
c.
Kawasan
Teknologi Pendidikan 9
d.
Teknologi
Pendidikan 14
e.
Macam-Macam,
Manfaat Dan Kekurangannya Teknologi Pendidikan 14
f.
Teknologi
Instruksional 18
g.
Pergeseran
Istilah Educational Technology ke arah Instructional Technology 21
h.
Desain
sistem teknologi pembelajaran dan Desain Pesan 23
i.
Teori-teori
Pembelajaran dalam Desain Teknologi Pembelajaran 30
j.
Teknologi 32
k.
Teknologi
Pendidikan 33
l.
Tahapan
Perkembangan Teknologi Pendidikan 34
m. Perkembangan dan Ruang
Lingkup Teknologi Pendidikan 35
n.
Teori-teori manajemen 38
o.
Kontribusi
Teori Manajemen dalam Teknologi Pendidikan 40
p.
Macam-macam
Teknologi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan 41
q.
Macam-macam
Teknologi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan 42
r.
Aplikasi
Teknologi Manajemen dalam Pemecahan Masalah Pembelajaran 43
BAB
III PENUTUP 44
A.
Kesimpulan
44
B.
Saran 44
Daftar
Pustaka 46
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di era baru
dalam dunia pendidikan ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu
cepat, dampaknya semua sendi kehidupan merasakan perkembangan ini,
termasuk dalam dunia pendidikan. Pendidikan merupakan investasi manusia untuk
mempersiapkan kehidupan yang lebih baik dikemudian hari, maka seduah menjadi
kewajiban untuk mengelola pendidikan secara professional agar didapati hasil
yang maksimal pula.
Salah satu
usaha untuk memaksimalkan hasil pendidikan pendidikan adalah dengan
memanfaatkan teknologi dalam dunia pendidikan, baik dalam sikap maupun langkah.
Sehingga kita tidak terjebak secara latah memakai teknologi canggih dan atau
sebaliknya apriori terhadap pemakaian teknologi. Oleh karena itu dalam langkah
dan sikap ini perlu kiranya tetap dijaga agar peran teknologi adalah tetap
sebagai alat dan bukan sebagai tujuan. Teknologi sebagai “tool” hendaknya
menjembatani dan membantu mengatasi persoalan-persoalan tersebut.
Pada
hakekatnya semua jenis teknologi dapat dimanfaatkan, asal dipilih sesuai dengan
penggunaanya yang tepat sesuai dengan tempat dan waktu. Dalam hal teknologi
komunikasi maka pemilihan perlu dilakukan dengan memperhatikan juga tempat,
waktu dan komunikasi. Teknologi komunikasi memegang peranan penting dalam
pendidikan. Pendidikan yang melibatkan manusia sebagai makhluk social, tidak
bisa lepas fungsi dari interaksi melalui komunikasi antar sesamanya. Oleh
karena itu pendidikan tidak bisa berjalan tanpa adanya komunikasi
Dengan
adanya teknologi komunikasi berkembang dengan pesat, ini memungkinkan kita bisa
mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia untuk kepentingan peningkatan
pendidikan. Makalah yang sederhana ini mencoba untuk menelaah pengertian
teknologi pendidikan ruang lingkupnya, unsur-unsur pendukungnya serta kegunaanya
dalam mengembangkan pendidikan Islam.
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan Domain atau wilayah teknologi pendidikan ?
b. Bagaimana Makna, Fungsi beserta Peran
Kawasan Teknologi Pendidikan ?
c. Apa saja Kawasan Teknologi Pendidikan ?
d. Apa yang dimaksud dengan Teknologi
Pendidikan ?
e. Apa saja Macam-Macam,
Manfaat Dan Kekurangannya Teknologi Pendidikan
?
f. Apa yang dimaksud dengan Teknologi
Instruksional ?
g. Bagaimana Pergeseran Istilah Educational
Technology ke arah Instructional Technology ?
h. Apa yang
dimaksud dengan Desain sistem teknologi pembelajaran dan Desain Pesan ?
i.
Apa saja Teori-teori Pembelajaran dalam Desain Teknologi
Pembelajaran ?
j.
Apa yang dimaksud dengan Teknologi ?
k.
Apa yang dimaksud dengan Teknologi Pendidikan ?
l.
Bagaimana Tahapan Perkembangan Teknologi Pendidikan
?
m.
Bagaimana Perkembangan dan Ruang
Lingkup Teknologi Pendidikan ?
n. Apa saja Teori-teori manajemen ?
o.
Bagaimana Kontribusi Teori Manajemen dalam Teknologi Pendidikan ?
p.
Apa saja Macam-macam Teknologi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan
?
q.
Apa saja Macam-macam Teknologi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan
?
r.
Bagaimana Aplikasi Teknologi Manajemen dalam Pemecahan Masalah
Pembelajaran ?
C. Tujuan
penulisan
a. Untuk mengetahui pengertian Domain atau wilayah teknologi pendidikan
b. Untuk mengetahui bagaimana Makna, Fungsi
beserta Peran Kawasan Teknologi Pendidikan
c. Untuk mengetahui apa saja Kawasan
Teknologi Pendidikan
d. Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan Teknologi Pendidikan
e. Untuk mengetahui apa saja Macam-Macam, Manfaat Dan Kekurangannya Teknologi Pendidikan
f. Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan Teknologi Instruksional
g. Untuk mengetahui bagaimana Pergeseran
Istilah Educational Technology ke arah Instructional Technology
h. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Desain sistem teknologi pembelajaran dan
Desain Pesan
i.
Untuk
mengetahui apa saja Teori-teori
Pembelajaran dalam Desain Teknologi Pembelajaran
j.
Untuk
mengetahui apa yang dimaksud
dengan Teknologi
k.
Untuk
mengetahui apa yang dimaksud
dengan Teknologi Pendidikan
l.
Untuk
mengetahui bagaimana Tahapan
Perkembangan Teknologi Pendidikan
m.
Untuk
mengetahui bagaimana Perkembangan
dan Ruang Lingkup Teknologi
Pendidikan
n. Untuk mengetahui apa saja Teori-teori
manajemen
o.
Untuk
mengetahui bagaimana Kontribusi
Teori Manajemen dalam Teknologi Pendidikan
p.
Untuk
mengetahui apa saja Macam-macam
Teknologi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan
q.
Untuk
mengetahui apa saja Macam-macam
Teknologi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan
r.
Untuk
mengetahui bagaimana Aplikasi
Teknologi Manajemen dalam Pemecahan Masalah Pembelajaran
D.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1.
Sebagai salah satu pesyaratan untuk menyelesaikan mata kuliah
teknologi pendidikan.
2.
Dapat memberi tambahan pengetahuan bagi penulis sendiri tentang
teknologi pendidikan
E.
Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode pustaka. Dalam pengumpulan
data-data penulis menggunakan studi kepustakaan (library research), dengan
merujuk kepada beberapa buku yang relevan. Dalam pengumpulan data-data tersebut
penulis lebih mengacu kepada data-data dari beberapa buku yang menyangkut judul
makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Domain atau wilayah teknologi
pendidikan
Secara
etimologis, domain berarti wilayah/ daerah kekuasaan atau bidang kajian/
kegiatan/ garapan yang lebih kecil, terinci dan spesifik dari lahan/ lapangan/ cakupan
suatu ilmu. Adapun Teknologi pendidikan sebagai teori dan praktik secara
faktual yang telah menjadi bagian integral dari upaya pengembangan sumber daya
manusia khususnya pada sistem pendidikan dan pelatihan. Idealnya setiap
teknologi pendidikan,pembelajaran terutama yang memperoleh pendidikan akademik
perlu menguasai beberapa kawasan teknologi pendidikan.
Teknologi
Pendidikan dapat pula dirumuskan sebagai suatu bidang yang memiliki unsur-unsur
nya adalah sebagai berikut :- Suatu bidang yang berkepentingan dengan kegiatan
belajar manusia. Kegiatan itu dilaksanakan secara sistematis, mencakup:
identifikasi pengembangan, pengorganisasian dan penggunaan segala macam sumber
belajar. Ada beberapa prinsip penerapan Teknologi Pendidikan yaitu :
1. Penerapan kawasan pemanfaatan ini
disebut pemanfaatan kontekstual. Artinya pemecahan permasalahan belajar pada
bidang PLB, ditelaah dengan kerangka teoretik TEP.
2. Penerapan kawasan TEP pada bidang PLB
terkait erat dengan konsep PLB, istilah PLB diadopsi dari special education.
Subjekmbelajar mencakup individu dengan berbagai ragam kekhususan,yang memiliki
karakteristik individual. Usia subjek sasaran, mencakup intervensi anak usia
dini, anak usia sekolah, anak usia
remaja, dan anak usia pasca remaja
3. Dari segi subjek garapan bidang PLB
menangani intervensi kepada semua individual with special needs. Subjek garapan
ini mencakup visual impairment, speech and language disorders, communication
disordes, hearing impairment, developmental disabilities, motor impairment,
health disorders, emotional disabilities, autism and multiple impairment.
4. Bidang PLB mengkaji secara konseptual
dan praktis pendidikan bagi individu with special needs pada seluruh jenjang
dan jenis pendidikan. Wilayah layanan pembelajaran, mencakup layanan pembelajaran
di lembaga sekolah, serta layanan pada masyarakat, dan lembaga kerja untuk
anak.
5. Bentuk layanan PLB tidak terbatas pada
lembaga pendidikan formal, tetapi juga lembaga layanan non-formal. Lembaga PLB
menangani pendidikan inklusi, inovasi PLB, layanan masyarakat tentang anak,
layanan orangtua dari anak, pengembangan pendekatan pembelajaran sesuai ragam
kekhususan dan pendidikan vokasional.
6. Materi intervensi mencakup pembelajaran
vokasional, pembelajaran bidang studi (untuk ABK dengan kecerdasan normal),
pembelajaran program khusus, serta ketrampilan domestik dan kompetensi adaptif.
7. Sumber/alat pembelajaran mencakup
pemanfaatan peralatan pembelajaran khusus, adaptasi peralatan pembelajaran anak
normal, serta pemanfaatan sumber belajar lingkungan nyata sesuai ragam
kekhususan, dan pemanfaatan bengkel kerja anak.
Namun juga ada menurut para ahli
pengertian dari pengertian domain atau wilayah
teknologi pendidikan, diantaranya :
1. Menurut Davies (1978)
Davies merumuskan bahwa
teknologi pendidikan sesuai dengan gejala pendidikan yang di amati. Pembahasan
davies juga dirangkum dari kumpulan tulisan klasik yang di sunting oleh Ely dan
plomp.[1]
Davies
merumuskan tiga pendekatan sehubungan dengan bidang garapan atau kawasan
teknologi pendidikan. Rumusan davies berikut meliputi pendekatan perangkat
keras (hardware), pendekatan perangkat lunak (software), dan perpaduan
pendekatan perangkat keras dan perangkat lunak. Berikut uraiannya :
a. Pendekatan perangkat keras (hardware)
Pendekatan ini
mengusahakan kegiatan guru yaitu mengajar dengan memanfaatkan penggunaan
perangkat keras. Penggunaan perangkat keras di maksudkan agar terjadi
otomatisasi atau proses mekanistik dalam kegiatan belajar mengajar.
b. Pendekatan Perangkat Lunak (Software)
Pada tahap ini
teknologi pendidikan “meminjam” teori dari ilmu prilaku yang ditetapkan untuk
mengatasi kesulitan belajar. Teori lain yang di tetapkan adalah teori
instruksional. Teori ini membahas cara-cara memperbaiki, memperbaharui, atau
merancang situasi yang betul-betul di butuhkan oleh siswa.
c.
Pendekatan
Perpaduan Perangkat Keras Dan Perangkat Lunak
Pendekatan perpaduan
menerapkan sistem analisis dalam pendidikan dan kegiatan instruksional.
Penerapan sistem analisis dianggap mampu mengurangi bias terhadap individu
siswa sehingga siswa dapat berperan dalam kelompoknya dengan dinamis. Selain
alasan tadi pendekatan perpaduan di anggap lebih manusiawi serta integratif
(terpadu) dengan kondisi belajar mengajar
sehari-hari.
2. Menurut Assosiation for Educational
Communication and Technology
Skema
kawasan yang diuraikan oleh AECT (1977 dan 1994) melekat satu sama lain
Visualisasi kawasan dan bidang garapan menjadi satu, namun mencerminkan
keduanya. Perbedaanya terletak pada cara pandang konsep kawasan terpisan dari
konsep bidang garapan. Dengan demikian kawasan dibahas seiring dengan
penjabaran bidang garapan.
·
Kawasan
AECT 1997
Teknologi pendidikan,
teknologi intruksional, sumber belajar, komponen bidang garapan : rancangan,
pengembangan, evaluasi, sumber belajar, peserta didik.
Salah satu cirri khas
dari bidang garapan yang di rumuskan Tim khusus AECT tahun 1977 adalah
penekanan model kawasan pada usaha mengabsahkan pekerjaan yang menonjolkan
“lahan” yang dapat di garap oleh para praktisi teknologi pendidikan.sebagaimana
biasanya, proses belajar menjadi factor utama dalam proses belajar dan
pendidikan
·
Kawasan
berdasarkan definisi teknologi pendidikan menurut AECT Definisi terbaru tahun
2008 merupakan pengembangan dari kawasan sebelumnya, dan tiap kawasan
melanjutkan perkembangannya. Definisi 2008 sudah lebih spesifik karena
menekankan pada studi dan etika praktek. Berikut definisi teknologi pendidikan
menurut AECT 2008 “educational technology is the study and ethical practice of
facilitating lerning and improving performance by creating, using, and managing
appropriate technological process and resource” bahwa teknologi pembelajaran
adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan
meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses
serta sumber daya teknologi. Kawasannya terdiri dari : Study, Praktik etis,
Memfasilitasi, Pembelajaran, Improving, Performance (meningkatkan), Appropriate
(yang layak), Teknologi, Proses, Sumber.
B. Makna, Fungsi beserta Peran Kawasan Teknologi
Pendidikan
a. Makna Kawasan Teknologi Pendidikan
Secara
etimologis, domain atau kawasan berarti wilayah daerah kekuasaan atau bidang
kajian, kegiatan, garapan yang lebih kecil, terperinci dan spesifik dari lahan
lapangan cakupan suatu ilmu. Adapun Teknologi pendidikan sebagai teori dan
praktik secara faktual yang telah menjadi bagian integral dari upaya
pengembangan sumber daya manusia khususnya pada sistem pendidikan dan
pelatihan. Idealnya setiap teknologi pendidikan, pembelajaran terutama yang
memperoleh pendidikan akademik perlu menguasai beberapa kawasan teknologi
pendidikan.
b. Fungsi Kawasan Teknologi Pendidikan
Mengetengahkan
sifat taksonomi dari struktur kawasan. Tujuan utama dalam membuat suatu
taksonomi adalah untuk mempermudah komunikasi. Pesatnya perubahan dan
penyesuaian teknologi menuntut terjadinya alih pengetahuan dari teknologi yang
satu kepada yang lain. Tanpa “kemungkinan dapat ditransfer” ini landasan
penelitian harus diciptakan kembali untuk setiap teknologi yang baru. Dengan
mengidentifikasi lingkup taksonomi, kaum akademisi dan para praktisi dapat memecahkan permasalahan penelitian.
c. Peran Kawasan Teknologi Pendidikan
Assosiation
for Educational Communication and Technology (AECT) mendefinisikan 5 domain
Teknologi pendidikan yaitu design, development, utilization, management and
evaluation. Pada tiap domain juga terdiri atas beberapa sub domain. Kawasan
teknologi pendidikan membagi banyak kesamaan dalam mendefinisikanya dan
memperkuat landasannya, sebagaimana keilmuan lainya dan aplikasi keilmuan
sosial.[2]
Definisi yang di kutip Luppicini (2005) tentang konsep kawasan teknologi
pendidikan adalah suatu tujuan yang berorientasi pada pendekatan sistem
pemecahan masalah memanfaatkan peralatan, teknik, teori dan metode dari
berbagai banyak bidang pengetahuan, untuk :
a. Merancang, mengembangkan dan menilai,
efektifitas dan efisiensi sumber manusia dan mesin dalam memfasilitasi dan
mempengaruhi semua aspek pembelajaran.
b. Pedoman agen perubahan perubahan sistem
dan praktek dalam hal untuk membagi dalam mempengaruhi perubahan dalam sosial.
C. Kawasan Teknologi Pendidikan
Kawasan menurut AECT
1994 antar lain yaitu :
a. Kawasan Desain
Kawasan
desain berasal dari psikologi pendidikan. Intinya, desain adalah proses untuk
menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk[3].
Kawasan desain terdiri atas :
·
Desain
sistem pembelajaran
Yaitu prosedur yang
terorganisasi dan sistematis untuk penganalisisan ( proses perumusan yang akan
dipelajari) perancangan
( proses penjabaran bagaimana cara mempelajarinya ) pengembangan ( proses
penulisan atau pembuatan produksi bahan-bahan belajar ) pelaksanaan atau
aplikasi ( pemanfaatan bahan dan strategi ) dan penilaian ( proses penentuan
ketepatan pembelajaran).
Kata
Desain mempunyai dua makna yaitu tingkat makro dan tingkat mikro yang keduanya menunjukkan pendekatan sistem
dan langkah pada pendekatan sistem. Pada desain sistem pembelajaran proses
sangat penting sama seperti produk karena kepercayaan produk berlandasakan pada
proses.
·
Desain
Pesan
Yaitu perencanaan untuk
merekayasa bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim dan
penerima pesan,dengan memerhatikan prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan
daya tangkap.
·
Strategi
pembelajaran
Yaitu spesifikasi untuk
menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam
suatu mata pelajaran.
·
Karakteristik
peserta didik
Yaitu aspek latar
belakang pengalaman peserta didik yang memengaruhi terhadap efektifitas proses
belajarnya, mencakup keadaan sosio-psiko-fisik peserta didik.
b. Kawasan Pengembangan
Proses
penerjemahan spesifikasi desain kedalam bentuk fisik. Mencakup banyak variasi
teknologi. Kawasan pengembangan meliputi :
-
Teknologi
cetak
Cara untuk memproduksi
atau menyampaikan bahan seperti buku-buku dan bahan visual yang statis, terutama
melalui proses pencetakan mekanis atau fotografi.
-
Teknologi
audiovisual
Teknologi audiovisual
merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan
mekanis dan elektronis untuk menyajikan pesan audio dan visual. Teknologi AV dinilai
lebih aktif karena sifatnya memerlukan indra pendengaran dan penglihatan
peserta didik.
-
Teknologi
berbasis komputer
Tekonologi berbasis
komputer merupakan cara-cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan
menggunakan perangkat yang bersumber mikroprosesor.
-
Teknologi
terpadu
Merupakan cara untuk
memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang
dikendalikan oleh komputer.
c. Kawasan Pemanfaatan
Aktifitas
menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Meliputi pemanfaatan media,
difusi, inovasi, implementasi, dan institusionalisasi, kebijakan dan
regulisasi. Kawasan pemanfaatan mencangkup :
·
Pemanfaatan
media
Dengan batasan
“penggunaan yang sistematis dari sumber untuk belajar.
·
Difusi
inovasi
Proses berkomunikasi
melalui strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya. Adapun
pelembagaan salah penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu
struktur atau budaya organisasi.
·
Kebijakan
dan regulasi
·
Sebagai
aturan dan tindakan nyata dari pengguna atau dari pembuat keputusan untuk
menerima inovasi(dalam teknologi pembelajaran).
d. Kawasan Pengelolaan
Meliputi
pengelolaan TP melalui perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian,dan
supervisi. Pengelolaan adalah bagian integral dan sering di hadapi oleh para
teknologi pembelajaran. Pengelolaan meliputi: (1) pengelolaan proyek,yaitu
mempin pekerjaan yang harus selesai dalam kurun waktu tertentu. Sebagai contoh,
proyek pengembangan suatu produk pembelajaran tertentu (2) pengelolaan sumber,
yaitu mengatur bagaimana memanfaatkan dengan optimal sumber yang ada (3)
pengelolaan sumber penyampaian, agar suatu medium sampai, atau dapat dijangkau
oleh pengguna sekaligus menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak,
termasuk cara menggunakanya dan (4) pengelolaan informasi, yaitu bagaimana
informasi dapat diterima, dan dapat menghasilkan perubahan atas kurikulum dan
desain pembelajaran.[4]
e. Kawasan Penilaian
Proses
penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar. Penilaian adalah kegiatan
untuk mengkaji serta memperbaiki suatu produk atau program. Kawasan penilaian
beranjak dari (1) analisis masalah (2) pengukuran acuan patokan
(criteria-refenced test) (3) evaluasi formatif yang bermanfaat untuk
pengembangan program dan produk pembelajaran serta (4) evaluasi sumatif.
f. Kawasan Perlengkapan
Kawasan
ini mungkin merupakan hal yang paling pelik dan berliku-liku dibandingkan
domain lain dalam Teknologi Pembelajaran. Dalam domain inilah digeluti segala
hal tentang pendaya gunaan media instruksional yang baik untuk mencapai tujuan
pengajaran, termasuk urusan pelembagaan serta kebijakan dan peraturan yang
dapat mendukung atau sebaliknya menghambat. Domain perlengkapan merupakan
bagian usaha mendayagunakan proses dan sumber belajar untuk mencapai tujuan
pengajaran.
g. Kawasan Evaluasi
Evaluasi
merupakan proses menentukan kesesuaian antara materi pelajaran dan proses
belajar. Evaluasi dimulai dengan analisis problem yang merupakan langkah awal
penting dalam pengembangan dan evaluasi isi pelajaran karena tujuan dan
kendalanya diklarifikasi selama langkah ini dilaksanakan.
D. Pengertian Teknologi Pendidikan
Menurut
Yp Simon (1983), teknologi adalah suatu displin rasional yang dirancang untuk
meyakinkan penguasaan dan aplikasi ilmiah. Pengertian Teknologi Pendidikan
diabad ke dua puluh meliputi lentera pertama proyektor slide, kemudian radio
dan kemudian gambar hidup. Sedangkan abad 19 ke bawah sampai lima belas
teknologi lebih diartikan papan tulis dan buku. Menurut Prof. Sutomo dan Drs.
Sugito, M.Pd ”Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks yang terpadu
untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar manusia/ pendidikan.
Menurut
”Mackenzie, dkk” (1976) Teknologi Pendidikan yaitu suatu usaha untuk
mengembangkan alat untuk mencapai atau menemukan solusi permasalahan. Jadi Teknologi
Pendidikan adalah segala usaha untuk memecahkan masalah pendidikan. Lebih
detail dapat diuraikan bahwa :
a.
Teknologi
Pendidikan lebih dari perangkat keras. Ia terdiri dari desain dan lingkungan
yang melibatkan pelajar.
b.
Teknologi
dapat juga terdiri segala teknik atau metode yang dapat dipercaya untuk
melibatkan pelajaran; strategi belajar kognitif dan keterampilan berfikir
kritis.
c.
Belajar
teknologi dapat dilingkungan manapun yang melibatkan siswa belajar secara
aktif, konstruktif, autentik dan kooperatif seta bertujuan.
E. Macam-Macam,
Manfaat Dan Kekurangannya Teknologi Pendidikan
Dalam
inovasi pendidikan tidak bisa lepas dengan masalah revolusi metode, kurikulum
yang inovatif, teknologi serta SDM yang kritis untuk bisa menghasilkan daya
cipta dan hasil sekolah sebagai bentuk perubahan pendidikan. Untuk itu ada lima
teknologi baru yang dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik.
1. Lima macam Teknologi
a. Sistem berpikir
Sistem berpikir menjadikan kita untuk
lebih hati-hati dengan munculnya tiap mode didunia pendidikan. Hal ini untuk
mengantisipasi terjadinya perubahan yang tidak kita inginkan.. Jadi sistem
berpikir menghadirkan konsep sistem yang umum, dimana berbagai hal saling
terkait.
b. Desain sistem
Desain sistem adalah teknologi merancang
dan membangun sistem yang baru. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang
cepat yang meningkatkan harapan. Desain sistem memberi kita peralatan untuk
menciptakan suatu sistem yang baru dan suatu strategi untuk perubahan.
c. Kualitas pengetahuan
Mutu atau kualitas pengetahuan merupakan
teknologi yang memproduksi suatu produk atau jasa/ layanan yang sesuai harapan
dan pelanggan. Ilmu pengetahuan yang berkualitas telah menjadi alat yang sangat
berharga dalam inovasi pendidikan/ sekolah.
d. Manajemen Perubahan
Manajemen perubahan adalah suatu cara
untuk memandu energi kreatif ke arah perubahan positif. Dapat juga diartikan
sistem pemikiran yang berlaku untuk aspek manajemen inovasi tentunya dengan
berorientasi pada POAC (Perencanaan,Organisasi, Aktualisasi dan Kontrol).
e. Teknologi pembelajaran
Disini ada dua bagian yaitu peralatan
Pelajar elektronik (Komputer, multimedia, Internet, telekomunikasi), dan
pembelajaran yang didesain, metode dan strateginya diperlukan untuk membuat
peralatan elektronik yang efektif. Pelajaran elektronik ini mengubah cara
mengkomunikasikan belajar. Jadi teknologi pembelajaran adalah sistem pemikiran
yang berlaku untuk instruksi dan belajar.
2. Tiga macam teknologi pendidikan
Macam-macam teknologi pendidikan menurut
Davies (1972) ada tiga yaitu:
a. Teknologi pendidikan satu
Teknologi pendidikan satu yaitu mengarah
pada perangkat keras seperti proyektor, laboratorium, komputer (CD ROM, LCD,
TV, Video dan alat lektronik lainnya). Teknologi mekanik ini dapat
mengotomatiskan proses belajar mengajar dengan alat yang memancarkan ,
memperkuat suara, mendistribusikan, merekam dan mereproduksi stimuli material
yang menjangkau pendengar/ siswa dalam jumlah yang besar. Jadi teknologi satu
ini efektif dan efisien.
b. Teknologi pendidikan dua
Teknologi pendidikan dua mengacu pada
”perangkat lunak” yaitu menekankan pentingnya bantuan kepada pengajaran.
Terutama sekali dalam kurikulum, dalam pengembangan instruksional, metodologi
pengajaran, dan evaluasi. Jadi teknologi dua, menyediakan keperluan bagaimana
merancang yang baru atau memperbarui yang sekarang, bermanfaat pada pengalaman
belajar Mesin dan mekanisme dipandang sebagai instrumen presentasi atau
transmisi.
c. Teknologi pendidikan tiga
Teknologi pendidikan tiga, yaitu
kombinasi pendekatan dua teknologi yaitu “peragkat keras“ dan perangkat lunak”.
Teknologi pendidikan tiga, orientasi utamanya yaitu ke arah pendekatan sistem,
dan sebagai alat meningkatkan manfaat dari apa yang ada di sekitar. Dari ketiga
macam tekonologi di atas dapat dikatakan bahwa teknologi pendidikan dalam
konteks sebenarnya adalah tidak hanya mengacu pada perangkat keras saja seperti
yang umum dijadikan sebagai persepsi yang benar, namum juga meliputi perangkat
lunak dan perpaduan keduanya perangkat keras dan lunak. Berikut manfaat
teknologi pendidikan dan kekurangannya
§
Manfaat
teknologi pendidikan
a. Teknologi Pendidikan sebagai peralatan
untuk mendukung konstruksi pengetahuan :
-
Untuk
mewakili gagasan pelajar pemahaman dan kepercayaan
-
Untuk
organisir produksi, multi media sebagai dasar pengetahuan pelajar.
b. Teknologi pendidikan sebagai sarana
informasi untuk menyelidiki pengetahuan yang mendukung pelajar :
-
Untuk
mengakses informasi yang diperlukan.
-
Untuk
perbandingan perspektif, kepercayaan dan pandangan dunia.
c. Teknologi pendidikan sebagai media sosial
untuk mendukung pelajaran dengan berbicara.
-
Untuk
berkolaborasi dengan orang lain.
-
Untuk
mendiskusikan, berpendapat dan membangun konsensus antara anggota sosial.
d. Teknologi pendidikan sebagai mitra
intelektual untuk mendukung pelajar
-
Untuk
membantu pelajar mengartikulasikan dan memprentasikan apa yang mereka ketahui.
e. Teknologi pendidikan dapat meningkatkan
mutu pendidikan/sekolah.
f. Tekonologi pendidikan dapat meningkatkan
fektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
g. Teknologi pendidikan dapat mempermudah
mencapai tujuan pendidikan.
§
Kekurangan
teknologi pendidikan
a. Pihak guru yang tidak bisa
mengoperasikan/menguasai elektronika akan tertinggalkan oleh siswa.
b. Teknologi pendidikan memerlukan SDM yang
berkualitas untuk bisa mempercepat inovasi sekolah, sedangkan realita masih
kurang.
c. Teknologi pendidikan baik itu hardware
maupun software membutuhkan biaya yang mahal.
d. Keterbatasan sarana prasarana sekolah
akan menghambat inovasi pendidikan.
e. Penggunaan teknologi pendidikan dalam
bentuk Hardware memerlukan kontrol yang tinggi dari guru atau orang tua
terutama internet dan software.
f. Siswa yang tidak mempunyai motivasi yang
tinggi cenderung gagal.
A. Teknologi Instruksional
Teknologi instruksional
ialah “satu bagian dari teknologi pendidikan dengan asumsi sebagai akibat
dari konsep instruksional sebagai bagian pendidikan bersifat rumit dan terpadu,
melibatkan orang, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi untuk
menganalisis dan mengolah masalah, kemudian menerapkan, mengevaluasi dan
mengelola pemecahan masalah pada situasi dimana proses belajar terarah dan
terpantau”. Rumusan tersebut mengandalkan teknologi pendidikan sebagai
suatu proses kegiatan berkesinambungan, dan merinci kegiatan yang harus
dilaksanakan oleh para praktisinya.
Menurut AECT (1994)
”Teknologi instruksional adalah teori dan praktek dalam mendesain,
mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan menilai proses-proses maupun
sumber-sumber belajar.
Perbedaan
definisi tahun 1977 dan 1994.
Dengan
memperhatikan format rumusan ini, terlihat perbedaan menyolok antara kedua
rumusan sebelumnya dengan rumusan terbaru. Perbedaan tersebut menyangkut struktur
definisi terbaru lebih sederhana dan luwes serta tidak ada
pemisahan antara konsep teknologi pendidikan dan teknologi instruksional.
Beberapa alasan yang dikemukakan diantaranya :
1.
Proses
evolusi teknologi pendidikan/instruksional dari suatu pergerakan (usaha
organisasi tertentu) menjadi bidang garapan dan profesi, dimana
definisi 1977 menekankan peran para praktisi, lalu definisi 1994 menekankan
bidang teknologi instruksional sebagai suatu bidang garapan sekaligus
terapan.
2.
Pengembangan
bidang garapan dilakukan melalui kajian teori serta penelitian.
3.
Menurut
definisi ini, baik proses maupun produk sama pentingnya bagi bidang garapan.
4.
Definisi
ini erat kaitannya dengan keefektifan dan keefisiensian.
Konsep
dasar teknologi pendidikan dan teknologi instruksional dari beberapa
narasumber:
1. Michael Molenda
Merumuskan teknologi
instruksional sebagai ”seni sekaligus ilmu (pengetahuan) mengenai kegiatan
merancang, memproduksi dan melaksanakannya dengan cara ekonomis namun
anggun/canggih, pemecahan masalah instrusional dalam bentuk media cetak atau
media pandang ,dengar, kuliah atau keseluruhan sistem instruksional yang
mengatur dan mempersiapkan proses belajar dengan efisien dan efektif.
2. Robert M Gagne
Teknologi instruksional
menyangkut teknik praktis dari penyampaian instruksional yang melibatkan
penggunaan media. Tujuan utama bidang teknologi instruksional adalah
meningkatkan dan mengenalkan penerapan pengetahuan dan memvalidasi prosedur
dalam rancangan dan penyampaian instruksional.
3. Garry J Anglin
Teknologi instruksional
adalah penerapan sistemik dan sistematis dari strategi-strategi dan
teknik-teknik yang berasal dari ilmu perilaku serta ilmu untuk mengatasi
masalah instruksional.
4. Tom Cutchall (1999)
Definisi menurut
Cutchal ini sama seperti definisi AECT 1994. Dia menekankan bahwa teknologi
pembelajaran merupakan penelitian dan aplikasi ilmu prilaku dan teori belajar
dengan menggunakan pendekatan sistem untuk melakukan analisis, desain,
pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk
membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja. Tujuan utamanya adalah
pemanfaatan teknologi (soft-technology maupun hard-technology) untuk membantu
memecahkan masalah belajar dan kinerja manusia.
5. AECT (2004)
Ini adalah definisi
terbaru yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan adalah studi dan praktek
etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan
cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan
sumber-sumber teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya masih tetap untuk
memfasilitasi pembelajaran (agar efektif, efisien dan menarik/joyfull) dan
meningkatkan kinerja.
Jadi Teknologi instruksional adalah
bagian dari teknologi pendidikan berdasarkan atas konsep bahwa pembelajaran
(instruction adalah bagian dari pendidikan). Teknologi instruksional adalah
proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide,
peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan,
melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam
situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
B. Pergeseran Istilah Educational
Technology ke arah Instructional Technology
AECT
merumuskan definisi teknologi pendidikan versi bulan juni 2004 yang termasuk
masih prematur dan dilemparkan kepada seluruh masyarakat yang terkait dengan
pendidikan melalui media internet. Konsep definisi versi
2004 adalah sebagai berikut: Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek yang
etis dalam memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja melalui kreasi,
penggunaan, dan pengelolaan proses dan sumber teknologi yang tepat. Kalau
dianalisis, di dalam definisi tersebut terkandung beberapa elemen berikut
1. Studi
2. Praktek yang etis
3. Kemudahan belajar
4. Perbaikan kinerja
5. Perbaikan kinerja
6. Kreasi, penggunaan, dan pengelolaan
7. Teknologi yang tepat
8. proses dan sumber.
Studi yang digunakan dalam definisi
tersebut merujuk pada pemaknaan studi sebagai usaha untuk mengumpulkan
informasi dan menganalisisnya melebihi pelaksanaan riset yang tradisional,
mencakup kajian-kajian kualitatif dan kuantitatif untuk mendalami teori, kajian
filsafat, pengkajian historik, pengembangan projek, kesalahan analisis, analisa
sistem, dan penilaian. Istilah studi dalam definisi tersebut pada hakekatnya
ditujukan untuk memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta
didik melalui kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar yang tepat.
Definisi tersebut mengarahkan bahwa
teknologi pendidikan memiliki praktek yang etis dalam memberikan kemudahan
belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik. Maksud dari praktek yang
etis tersebut adalah adanya standar atau norma dalam mengkreasi atau merancang,
menggunakan, dan mengelola proses pembelajaran dan pemanfaatan sumber belajar
untuk kepentingan belajarnya peserta didik.
Dari definisi 2004 ini tergambar
bahwa adanya pergeseran gerakan teknologi pendidikan dari definisi sebelumnya
yaitu bahwa teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran sebagai teori dan
praktek, bahkan bidang kajian, menjadi studi dan praktek yang etis. Hal ini
mengarahkan perlu adanya kajian-kajian yang mendalam dan lebih tepat sehingga
diperoleh konsep-konsep dan praktek belajar sesuai dengan kepentingan belajar
setiap individu. Namun demikian, perubahan gerakan tersebut tidak menyurutkan
tujuan dari teknologi pendidikan yaitu memfasilitasi belajar dan perbaikan
penampilan belajar peserta didik dengan menggunakan berbagai macam sumber
belajar.
Seiring dengan kemajuan teknologi,
maka proses pelaksanaan pendidikan pun mengalami pergeseran, dimana dulu
seorang guru bertugas sebagai pengajar/ pemberi secara aktif, sekarang tugas
guru beralih seiring dengan teknoologi yang ada. Guru menjadi seorang
instructor bagi peserta didik. Sehingga istilah yang dianggap lebih tepat
adalah Instructional technology.
C. Desain sistem
teknologi pembelajaran dan Desain Pesan
Ø Desain sistem
teknologi pembelajaran yaitu, prosedur yang terorganisasi dan sistematis untuk[1] :
1.
Penganalisaan (proses perumusan apa yang akan dipelajari)
2.
Perencanaan (penjabaran bagaimana cara mempelajarinya)
3.
Pengembangan (proses penulisan dan pembuatan atau produksi
bahan-bahan belajar)
4.
Pelaksaan atau aplikasi (pemanfaatan bahan dan strategi)
5.
Penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran)
Desain sistem teknologi pembelajaran biasanya merupakan prosedur
linear dan interaktif yang menuntut kecermatan dan kemantapan. Agar dapat
berfungsi sebagai alat untuk saling mengontrol, semua langkah-langkah tersebut
harus tuntas. Dalam menilai pelaksaan desain teknologi pembelajaran mencakup 3
aspek[2] :
1.
Validasi tujuan dalam hubungan dengan peranan pendidikan
diproyeksikan.
2.
Tingkat-tingkat kriteria dan bentuk assessemt.
3.
Pelaksanaan organisasi dan pengelolaan dalam hubungan dengan hasil
tujuan.
Pada prinsipnya pelaksanaan penilaian harus dilakukan sejak awal
dan continue karena merupakan bagian integral dalam pengembangan program.
Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan
oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan
ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model
berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Model berorientasi
kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang
hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah model
assure.
Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk
menghasilkann suatu produk, biasanya media pembelajaran, misalnya video
pembelajaran, multimedia pembelajaran, atau modul. Contoh modelnya adalah model
hannafin and peck.
Satu lagi adalah model beroreintasi sistem yaitu model desain
pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas,
seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum seiolah, dan lain-lain.
contohnya adalah model addie. Selain itu ada pula yang biasa kita sebut sebagai
model prosedural dan model melingkar.
Contoh dari model prosedural adalah model Dick and Carrey, sementara
contoh model melingkar adalah model Kemp.
Adanya variasi model yang ada ini sebenarnya juga dapat
menguntungkan, beberapa keuntungan itu antara lain adalah dapat memilih dan
menerapkan salah satu model desain pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik yang dihadapi di lapangan, selain itu juga, dapat dikembangkan
dan dibuat model turunan dari model-model yang telah ada, ataupun juga dapat diteliti dan dikembangkan desain
yang telah ada untuk dicobakan dan diperbaiki. Beberapa contoh dari model-model
diatas akan diuraikan secara lebih jelas berikut ini:
1.
Model Dick and Carrey
Salah satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey.
Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah-langkah Desain Pembelajaran
menurut Dick and Carey adalah :
a.
Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
b.
Melaksanakan analisi pembelajaran
c.
Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
d.
Merumuskan tujuan performansi
e.
Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan
f.
Mengembangkan strategi pembelajaran
g.
Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
h.
Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
i.
Merevisi bahan pembelajaran
j.
Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
Model Dick and
Carey bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model
desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan
hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan
yang lainya. Langkah awal pada model Dick and Carey adalah mengidentifikasi
tujuan pembelajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan
tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata
pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat
melahirkan suatu rancangan pembangunan.
Penggunaan
model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar :
1.
Pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat
mengetahui dan mampumelakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran.
2.
Adanya pertautan antara tiap kompone nkhususnya strategi
pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki.
3.
Menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan
perencanaan desain pembelajaran.
2.
Model Kemp
Model Kemp
termasuk ke dalam contoh model melingkar. Secara singkat, menurut model ini
terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu :
§ Menentukan
tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap
topiknya.
§ Menganalisis
karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain
§ Menetapkan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan
tolak ukur perilaku pelajar
§ Menentukan isi
materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan.
§ Pengembangan
prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan
pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik.
§ Memilih
aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau
menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan
tujuan yang diharapkan.
§ Mengkoordinasi
dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia,
fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana
pembelajaran.
§ Mengevaluasi
pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta
melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari
perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang
dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
3.
Model ASSURE
Model
ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut
Heinich et al model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:
a.
Analyze Learners (analisis pelajar)
Menurut
Heinich et.al jika sebuah media pembelajaran akan digunakan secara baik dan
disesuaikan dengan cirri-ciri belajar, isi dari pelajaran yang akan dibuatkan
medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich, 2005
menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada
tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai .berdasarkan
cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar.
b.
States Objectives (menyatakan tujuan)
Menyatakan
tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembeljaran baik berdasarkan
buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang
sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus
difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari.
c.
Select Methods, Media, and Material (pemilihan metode, media dan
bahan)
Heinich
menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan metode, bahan dan media yaitu
menentukan metode yang sesuai dengan tugas pembelajaran, dilanjutkan dengan
memilih media yang sesuai untuk melaksanakan media yang dipilih, dan langkah
terakhir adalah memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan.
d.
Utilize Media and materials (penggunaan media dan bahan)
Menurut
Heinich terdapat lima langkah bagi penggunaan media yang baik yaitu, preview
bahan, sediakan bahan, sedikan persekitaran, pelajar dan pengalaman
pembelajaran.
e.
Require Learner Participation (partisipasi pelajar di dalam kelas)
Sebelum
pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas
pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi.
f.
Evaluate and Revise
Sebuah
media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan dan
impak pembelajaran.
i. Model ADDIE
Ada
satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model
ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun
1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADDIE
yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program
pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model
ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
a. Analysis
(analisa)
b. Design (desain
/ perancangan)
c. Development
(pengembangan)
d. Implementation
(implementasi/eksekusi)
e. Evaluation
(evaluasi/ umpan balik)
f. Model Hanafin
and Peck
Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri
daripada tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, dan fase
pengembangan dan implementasi Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu
dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran
berorientasi produk.
Ø Desain pesan
Desain pesan
yaitu perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi
antara pengirim dan penerima, dengan memperhatikan prinsip-prinsip perhatian,
persepsi dan daya tangkap. Fleming berpendapat bahwa membatasi pesan pada
pola-pola isyarat atau symbol yang dapat memodifikasi prilaku kognitif,
afektif, dan psikomotor.[3]
Desain pesan
harus bersifat spesifik, baik tentang media maupun tugas belajarnya. Hal ini
mengandung makna bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda, tergantung
pada jenis medianya, apakah bersifat statis, dinamis, atau kominasi keduanya
(misalnya suatu potret, film atau grafik computer). Juga apakah tugas
belajarnya tentang pembentukan konsep, pengembangan sikap, pengembangan
keterampilan, strategi belajar atau hafalan.
Dengan demikian desain pesan ini melibatkan perencanaan untuk menentukan
jenis media dan format sajian yang paling menarik untuk menyampaikan
pesan-pesan pembelajaran kepada peserta didik.
Menyampaikan
pembelajaran sesuai dengan konsep teknologi pembelajaran pada hakikatnya
merupakan kegiatan menyampaikan pesan kepada peserta didik oleh narasumber
dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dan dalam lingkungan tertentu.
1.
Karakteristik Isi Pesan
Agar pesan menarik untuk khalayak, maka pesan harus mengandung
unsure-unsur sebagai berikut :
a.
novelty (sesuatu yang baru), pendengar atau pemirsa akan tertarik
apabila yang disajikan sesuatu yang baru.
b.
kedekatan atau proximity, pendengar atau pemirsa akan lebih
tertarik apabila yang disajikan sesuatu yang dekat secara fisik dengan
pengalamannya.
c.
Popularitas pemberian seorang tokoh yang popular akan mempunyai
daya tarik tersendiri bagi para pendengarnya.
d.
Pertentangan (conflict), sesuatu yang mengungkapkan pertentangan
biasanya disukai pendengar.
e.
Komedi (humor), hal-hal yang lucu dan menyenagkan akan lebih nenarik
untuk didengar sehingga tidak membosankan .
f.
keindahan, menyenangi keindahan dan kecantikan adalah salah satu
sifat manusia, sehigga sifat yang mengandung keindahan akan sangat disenangi.
g.
emosi, sesuatu yang membangkitkan emosi dan menyentuh perasaan yang
merupakan daya tarik tersendiri dalam mengemas suatu pesan.
h.
nostalgia, yaitu hal yang mengungkapkan pengalaman dimasa lalu.
i.
human interest, yaitu cerita-cerita yang menyangkut kehidupan orang
lain.
2.
Struktur Pesan
Struktur
pesan mengacu kepada bagaimana mengorganisasi elemen-elemen pokok dalam sebuah
pesan.
a. Sisi pesan
terdiri atas dua bentuk penyusunan, yaiyu satu sisi ( one sided) dan dua sisi (
two sided). Penyusunan pesan lebih banyak menitik beratkan pada kepentingan
pihak pengirim pesansaja. Biasanya pesan yang ditonjolkan adalah
aspek-aspekpositif. Duas sisi pesan disampaikan dengan segala kelemahan dan
kekuatannya.
b. Urutan
penyajian berbentuk climax versus anticlimax order dan recency and primacy
model.
c. Penarikan
kesimpulan. Membuat suatu kesimpulan dapat secara merata langsung dan jalas
(explisit) atau secara tidak langsung (implisit)
Ø Daya Tarik
Pesan
Daya tarik
pesan berkaitan dengan teknik penampilan dalam penyusunan suatu pesan, ide yang
meliputi fear (thereat) appleals, emotional appleals, rational appleals dan
humor appleals. Fear (theart) appleals bila dalam menyajikan suatu pesan yang
ditunjukan unsur-unsur ancaman bahaya sehingga menimbulkan rasa takut, dan bila
penekana pesan pada hal-hal yang bersifat emosional seperti keindahan, kesedihan,
kesengsaraan, cinta dan kasih sayang rationel appleals bial pesan tersebut
menekankan pada hal-hal yang logis, rasional dan factual. Humor appleals bila
penyajian pesan dikemas dalam bentuk humor, bisa saja dalam bentuk kata,
kalimat, gambar, simbol, atau yang lainnya yang bisa menimbulkan pesan lucu.
D.
Teori-teori Pembelajaran dalam Desain Teknologi Pembelajaran
Penelitian
terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang bermedia teknologi dapat
meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka terhadap belajar, dan evaluasi
dari pengalaman belajar mereka. Dengan kata lain, penggunaan media menggunakan
audio visual atau komputer media dapat membantu siswa itu memperoleh pelajaran
bermanfaat. Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui
perbedaan pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi
pembelajaran yang tepat. Terdapat beberapa teori belajar yang melandasi
penggunaan teknologi/komputer dalam pembelajaran yaitu teori behaviorisme,
kognitifisme dan konstruktivisme.
·
Teori Behaviorisme
Behaviorisme
memandang fikiran sebagai „kotak hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat
diobsevasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang
terjadi dalam otak. Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi
dan diukur sebagai indikator belajar. Implementasi prinsip ini dalam mendesain
suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut :
1.
Siswa harus diberitahu secara eksplisit outcome belajar sehingga
mereka dapat mensetting harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinya
telah mencapai outcome dari pembelajaran online atau tidak.
2.
Materi belajar harus diurutkan dengan tepat untuk meningkatkan
belajar.
3.
Pembelajar harus diberi umpan balik sehingga mereka dapat
mengetahui bagaimana melakukan tindakan koreksi jika diperlukan.
·
Teori Kognitivisme
Dalam teori ini
mereka lebih menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk
memperoleh umpan balik dan informasi. Implementasi prinsip ini dalam mendesain
suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.
Materi pembelajaran harus memasukan aktivitas gaya belajar yang
berbeda, sehingga siswa dapat memilih aktivitas yang tepat berdasarkan
kecenderungan gaya berlajarnya.
b.
Sebagai tambahan aktivitas, dukungan secukupnya harus diberikan
kepada siswa dengan perbedaan gaya belajar. Siswa dengan perbedaan gaya belajar
memiliki perbedaan pilihan terhadap dukungan, sebagai contoh, assimilator lebih
suka kehadiran instruktur yang tinggi. Sementara akomodator lebih suka
kehadiran instruktur yang rendah.
c.
Informasi harus disajikan dalam cara yang berbeda untuk
mengakomodasi perbedaan individu dalam proses dan memfasilitasi transfer ke
long-term memory.
d.
Pembelajar harus dimotivasi untuk belajar, tanpa memperdulikan
sebagaimana efektif materi, jika pembelajar tidak dimotivasi mereka tidak akan
belajar.
e.
Pada saat belajar, pembelajar harus diberi kesempatan untuk
merefleksi apa yang mereka pelajari. Bekerja sama dengan pembelajar lain, dan
mengecek kemajuan mereka.
f.
Psikologi kognitif menyarankan bahwa pembelajar menerima dan
memproses informasi untuk ditransfer ke long term memory untuk disimpan.
·
Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok
pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang
kontekstual. Jika informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka
strategi belajar yang mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan
untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti dapat menerapkan informasi tersebut
secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke
konstruksi dan penemuan pengetahuan. Implementasi pada online learning adalah
sebagai berikut :
1.
Belajar harus menjadi suatu proses aktif.
2.
Pembelajar mengkonstruksi pengetahuan sendiri bukan hanya menerima
apa yang diberi oleh instruktur.
3.
Bekerja dengan pembelajar lain memberi pembelajar pengalaman
kehidupan nyata melalui kerja kelompok, dan memungkinkan mereka menggunakan
keterampilan metakognitif mereka.
4.
Pembelajar harus diberi control proses belajar.
5.
Pembelajar harus diberi waktu dan kesempatan untuk refleksi. Pada
saat belajar online siswa perlu merefleksi dan menginternalisasi informasi.
6.
Belajar harus dibuat bermakna bagi siswa.
7.
Belajar harus interaktif dan mengangkat belajar tingkat yang lebih
tinggi dan kehadiran sosial, dan membantu mengembangkan makna personal.
E.
Pengertian Teknologi
Terminologi
teknologi berasal dari kata “textere” (bahasa Latin) yang artinya “to weave or
construct”, menenun atau membangun. Dalam bahasa Yunani teknologi berasal dari
kata “Technologia” yang menurut Webster Dictionary berarti systematetic
treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis. Arti lain dari Teknologi
diambil dari kata Techne sebagai dasar yaitu art, skill dan science yang
berarti keahlian, keterampilan, dan ilmu.
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk
menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan
hidup manusia. Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas,
benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan
pemikiran untuk mencapai suatu nilai. Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk
pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di
dunia nyata. Ia adalah istilah
yang mencakupi
banyak hal, dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau
sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau
pemercepat partikel.
A.
Teknologi Pendidikan
Teknolgi
pendidikan yaitu konsep yang kompleks. Ia dapat dikaji dari berbagai segi dan
kepentingan. Teknologi pendidikan adalah kajian dan praktik untuk membantu
proses belajar dan meningkatkan kinerja dengan membuat, menggunakan, dan
mengelola proses dan sumber teknologi yang memadai, istilah teknologi
pendidikan sering dihubungkan dengan teori belajar dan pembelajaran, seperti :
Menurut pendapat
Cutchal 1999, (dalam Abdul Katar Al-Ghazali : 2) definisi teknologi pendidikan
atau pembelajaran merupakan penelitian dan aplikasi ilmu prilaku dan teori
belajar dengan menggunakan pendekatan sistem untuk melakukan analisis, desain,
pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk
membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja. Tujuan utamanya adalah
pemanfaatan teknologi (soft-technology maupun hard-technology) untuk membantu
memecahkan masalah belajar dan kinerja manusia.
Dari beberapa
definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Teknologi Pendidikan adalah suatu
disiplin ilmu yang memfokuskan diri dalam upaya memfasilitasi belajar pada
manusia. Jadi obyek formal teknologi pendidikan menurut pengertian ini adalah
bagaimana memfasilitasi belajar dengan cara melalui identifikasi, pengembangan,
pengeorgnasiasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar.
Disamping itu, melalui pengelolaan yang baik dan tepat terhadap proses secara
sistematis pada seluruh sumber belajar.
Teknologi
Pendidikan dikenal sebagai cara-cara yang sistemik dan sistematik dalam
memecahkan masalah pembelajaran secara efektif dan efisien, di dalam definisi
ini ada beberapa pengertian:
a.
Teknologi Pendidikan
menawarkan berbagai cara, bukan satu cara.
b.
Teknologi Pendidikan menawarkan cara yang sistemik
(bersistem) bukan parsial, tetapi menyeluruh dan integratif dengan melibatkan
semua komponen pembelajaran. Seperti uraian Suparman (2004) “bahwa suatu sistem
lebih sekedar gabungan dari bagian-bagian; ia harus mempunyaitujuan tertentu
yang tidak dapat dicapai oleh fungsi dari satu atau beberapa bagian darinya.”
c.
Teknologi Pendidikan menawarkan cara yang runtut
atau sistematik, tidak acak-acakan.
d.
Teknologi Pendidikan menawarkan cara yang terbukti
efektif dan efisien, melalui uji coba dalam skala terbatas sebelum digunakan
dalam skala nasional.
e.
Cara-cara itu terfokus pada rangkaian interaksi
antara peserta didik dengan sumber belajar dalam skala luas, termasuk pengajar
dan berbagai media sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan
sebelumnya tercapai.
Definisi itu
menjanjikan terjadinya solusi dalam memecahkan masalah pembelajaran melalui
lima konsep dasar yang sangat indah. Sehingga munculah Teknologi
Pendidikan ini sebagai sang Revolusioner
untuk mengubah taraf pendidikan itu sendiri kearah yang lebih baik.
B. Tahapan Perkembangan Teknologi Pendidikan
Tahapan
perkembangan teknologi pendidikan ini ditinjau dari perjalanan sejarah telah
mengalami empat tahap perubahan atau perkembangan, hal ini dilihat dari
penyajian pendidikan itu sendiri.
Pertama adalah
takkala dalam masyarakat tumbuh suatu profesi baru dalam dunia pendidikan yang
disebut “guru” yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan
mewakili orang tua. Dan guru inilah yang pada mulanya menerapkan teknologi
pendidikan dari perangkat softwarenya yang pada masa ini masih tradisional dan
sederhana. Dari peranan guru ini sehingga peranan pendidikan bergeser dari
pendidikan rumah menjadi pendidikan sekolah secara formal.
Perkembangan
kedua dimulai dengan dipergunakannya bahasa tulisan di samping bahasa lisan
dalam penyajian pendidikan. Pada perkembangan ini teknologi pendidikan mulai
menggunakan perangkat hardwarenya meskipun masih sangat sederhana seperti alat
tulis.
Perkembangan
yang ketiga terjadi dengan ditemukanya teknik percetakan yang memungkinkan
diperbanyaknya bahan-bahan bacaan dalam bentuk buku-buku teks sebagai materi
pendidikan, dan saat inilah teknologi pendidikan mulai dipergunakan dari segi
software beserta hardwarenya semakin konkrit dan teratur.
Perkembangan
yang keempat terjadi dengan ditemukannya teknologi berikut produknya yang
menghasilkan alat-alat mekanis,optis maupun elektronis sehingga teknologi
pendidikan sudah memakai erangkat software dan hardware secara sempurna dan
modern yang sesuai dengan kemampuan pendidik sehingga proses pendidikan semakin
maju pesat seiring dengan perkembangan zaman.
Tahapan
perkembangan ini tidak memilh dari segi teknologi pendidikan software atau dari
perangkat yang lain tetapi sudah memadukannya dengan sangat baik.
C. Perkembangan dan Ruang Lingkup Teknologi Pendidikan
Perkembangan Teknologi Pendidikan telah berlangsung
dari waktu yang lama sekali, banyak pendapat dan kejadian sejarah yang
mendasari awal perkembangan Teknologi Pendidikan, terutama yang berkaitan
dengan perkembangan manusia.
Hasil dari penelitian “Perceptions and Opinions of
Educational Technologists Related to Educational Technology”. (Persepsi dan
Pendapat teknologi Pendidikan Terkait dengan Teknologi Pendidikan).
mengungkapkan bahwa teknologi pendidikan telah mengalami perubahan sejak
disiplin ilmu ini lahir. Perubahan ini secara general ditandai dengan
berubahnya konsep teknologi pendidikan sebanyak dua kali dari sejak tahun 1977
(definisi AECT). Konsep tersbut dapat dipaparkan sebagai berikut : “Teknologi
Pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang,
prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari
jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah
yang menyangkut semua aspek belajar manusia”. (AECT, 1977)
“Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam
desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi terhadap proses
dan sumber belajar”. (AECT, 1994). “Teknologi pendidikan adalah teori
dan praktek ilmiah dalam memfasilitasi atau memudahkan belajar dan meningkatkan
hasil dengan cara membuat, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber
teknologi yang tepat) (AECT, 2004/2008)
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan
perubahan konsep teknologi pendidikan telah terjadinya perubahan paradigma
dalam batang tubuh teknologi pendidikan. Paradigma tersebut merupakan cara
pandang teknologi pendidikan terhadap perkembangan manusia.
Dalam teknologi Pendidikan
dalam keseluruhan kegiatannya bertujuan untuk :
1.
Meningkatkan fungsi dan peran komponen-komponen sistem instruksional
seperti guru, pesan, bahan, peralatan, teknik, lingkungan dan sebagainya untuk
memecahkan masalah-masalah kependidikan
2.
Meningkatkan fungsi pengembangan instruksional seperti riset teori,
desain, produksi, logistik dan sebagainya untuk menganalisis masalah,
merancang, melaksanakan dan menilai upaya pemecahan masalah-masalah
kependidikan.
3.
Meningkatkan fungsi manejemen instruksional, baik manajemen personil
maupun manajemen organisasinya untuk mengkoordinasikan salah satu atau beberapa
fungsi yang telah disebutkan di atas.
Jika dikaji lebih mendalam mengenai ciri-ciri dan tujuan teknologi
pembelajaran di atas, jelaslah bahwa kehadiran teknologi pembelajaran dalam
dunia pendidikan adalah karena adanya dorongan-dorongan tertentu.
Adapun hal-hal yang mendorong dikembangkannya teknologi pembelajaran
adalah sebagai berikut:
a.
Adanya siswa atau peserta didik
yang memerlukan bantuan dalam belajar sesuai dengan kemampuannya, kebutuhannya,
kondisinya dan tujuannya.
b.
Sumber-sumber tradisonal sudah tidak mencukupi lagi kebutuhan pendidikan,
oleh karena itu, perlu dikembangkan dan dimanfaatkannya sumber-sumber belajar
baru
c.
Adanya komponen-komponen sistem instruksional berupa pesan, orang, bahan,
peralatan, teknik dan lingkungan yang perlu didayagunakan agar dapat mencapai
tujuan pembelajaran secara efektitif dan efisien
d.
Adanya kegiatan sebagai suatu sistem dalam mengembangkan sumber-sumber
belajar sebagai komponen sistem instruksional yang bertolak dari suatu teori
tertentu dan hasil penelitian, kemudian dirancang, diproduksi, disajikan,
digunakan, dinilai untuk disempurnakan, kemudian disebarkan
e.
Adanya kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar sebagai komponen
sistem instruksional, serta lembaga atau instansi yang terlibat langsung dalam
kegiatan tersebut sehingga perlu dikelola dengan baik agar kegiatan tersebut
lebih berdaya guna
Kelima latar belakang tersebut, secara konseptual merupakan gejala bidang
garapan teknologi pembelajaran, sekaligus latar belakang diterapkannya konsep
teknologi pembelajaran.
Berikut ini akan dikemukakan secara singkat gerakan yang mendasari
terwujudnya bidang dan konsep teknologi pembelajaran seperti yang ada sekarang.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi pembelajaran pada
pokoknya mempunyai lima jenis kegiatan yaitu :
ü Menganalisis masalah dan
merumuskan masalah
ü Merancang pemecahan masalah
ü Mengembangkan pemecahan
masalah
ü uji coba, penilaian dan
revisi pemecahan masalah, dan
ü Penerapan dan pengendalian
pemecahan masalah.
Teknologi Pendidikan dalam keseluruhan kegiatannya
bertujuan untuk:
1.
Meningkatkan
fungsi dan peran komponen-komponen sistem instruksional seperti guru, pesan,
bahan, peralatan, teknik, lingkungan dan sebagainya untuk memecahkan
masalah-masalah kependidikan.
2.
Meningkatkan
fungsi pengembangan instruksional seperti riset teori, desain, produksi,
logistik dan sebagainya untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan dan
menilai upaya pemecahan masalah-masalah kependidikan.
3.
Meningkatkan
fungsi manejemen instruksional, baik manajemen personil maupun manajemen
organisasinya untuk mengkoordinasikan salah satu atau beberapa fungsi yang
telah disebutkan di atas.
Jika dikaji lebih mendalam mengenai ciri-ciri dan
tujuan teknologi pembelajaran di atas, jelaslah bahwa kehadiran teknologi
pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah karena adanya dorongan-dorongan
tertentu.
Adapun hal-hal yang mendorong dikembangkannya
teknologi pembelajaran adalah sebagai berikut:
·
Adanya siswa
atau peserta didik yang memerlukan bantuan dalam belajar sesuai dengan
kemampuannya, kebutuhannya, kondisinya dan tujuannya
·
sumber-sumber
tradisonal sudah tidak mencukupi lagi kebutuhan pendidikan, oleh karena itu,
perlu dikembangkan dan dimanfaatkannya sumber-sumber belajar baru
·
Adanya
komponen-komponen sistem instruksional berupa pesan, orang, bahan, peralatan,
teknik dan lingkungan yang perlu didayagunakan agar dapat mencapai tujuan
pembelajaran secara efektitif dan efisien
·
Adanya
kegiatan sebagai suatu sistem dalam mengembangkan sumber-sumber belajar sebagai
komponen sistem instruksional yang bertolak dari suatu teori tertentu dan hasil
penelitian, kemudian dirancang, diproduksi, disajikan, digunakan, dinilai untuk
disempurnakan, kemudian disebarkan
·
Adanya
kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar sebagai komponen sistem
instruksional, serta lembaga atau instansi yang terlibat langsung dalam
kegiatan tersebut sehingga perlu dikelola dengan baik agar kegiatan tersebut
lebih berdaya guna
Kelima latar belakang tersebut, secara konseptual
merupakan gejala bidang garapan teknologi pembelajaran, sekaligus latar
belakang diterapkannya konsep teknologi pembelajaran.
Berikut ini akan dikemukakan secara singkat gerakan
yang mendasari terwujudnya bidang dan konsep teknologi pembelajaran seperti
yang ada sekarang.
1.
Menganalisis
masalah dan merumuskan masalah
2.
Merancang
pemecahan masalah
3.
Mengembangkan
pemecahan masalah
4.
Uji coba,
penilaian dan revisi pemecahan masalah, dan
5.
Penerapan
dan pengendalian pemecahan masalah.
D.
Pengertian Manajemen teknologi pendidikan
Menurut Mary Parker Follet, manajemen sebagai seni untuk
melaksanakan pekerjaan melalui orang. Sedangkan menurut Henry M. Botinger
manajemen sebagai suatu seni membutuhkan tiga unsur yaitu : pandangan,
pengetahuan teknis, dan komunikasi. Ketiga unsur tersebut terkandung dalam
manajemen. [1] manajemen
diartikan sebagai seni dalam proses merencana, mengorganisasi, memimpin, dan
mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi
tercapai secara efektif dan efisien.
Sedangkan teknologi adalah suatu proses yang dilaksanakan dalam
upaya untuk mewujudkan sesuatu secara rasional yang meliputi barang-barang,
benda-benda, atau alat-alat yang berhasil dibuat oleh manusia untuk memudahkan
dan menggampangkan realisasi hidupnya di dalam dunia.
Dan pendidikan Menurut Langeveld adalah setiap usaha, pengaruh,
perlindungan dan bantuan yang diberikan pada anak tertuju kepada pendewasaan
anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas
hidupnya sendiri.[2]
Dari rincian
diatas maka dapat kita simpulkan bahwaManajemen
teknologi merupakan pengerahan (deployment) upaya (sumber daya) secara efektif
(multidisiplin) dalam perencanaan, pengembangan dan implementasi kemampuan
teknologi untuk pencapaian tujuan strategik dan operasional Pendidikan. Selain
itu, manajemen teknologi dapat dikatakan sebagai suatu ilmu yang menjembatani
antara kajian manajemen, teknik dan ilmu pengetahuan (sciences).
Dalam manajemen teknologi pendidikan dilakukan
need assessment sebagai langkah awal dari
proses secara sistematis. Sedangkan tujuan dari
need assessment itu sendiri adalah menemukan dan mengenali
parameter parameter penyebab masalah untuk mencari pemecahan
yang akurat.

Proses
need assessment itu di klasifikasikankedalam 7 bagian
1.
Gather Information, yaitu proses pengumpulan informasi dalam mengumpulkan
data-data yang diperlukan
2.
Identify discrepancies, yaitu
proses dimana menidentifikasi perbedaan antara harapan dan hasil
yang ingin dicapai, dalam
proses ini masalah yang
dihadapai sudah ada
3.
Do performance analysis, proses ini ada ketika masalah
yang timbul karena adanya kekurangan
di sumber daya manusia,
maka hal yang dilakukan bias dengan pengadaan diklat
4.
Identify constrain and resources, proses ini ada ketik amasalah
yang timbul karena sarana penunjang
SDM.
5.
Identify learner characteristic, proses ini dilakukan untuk membantu memecahkan masalah dengan
me-sinergikan antara pembelajar objek atau sumber sarana
yang diperlukan
6.
Identify priorities and goals, dalam proses ini di tentukan prioritas utama dantujuan
yang harus di capai
7.
Write problem statement, proses ini adalah akhir dari
proses need assessment, dimana isinya adalah untuk menyimpulkan permasalahan
yang ada serta prioritas dan tujuan
yang telah di tetapkan.
Merancang tujuan dan
target pembelajaran adalah langkah pertama
yang harus dilakukan dalam merancang pembelajaran menggunakan teknologi.
Sejatinya, teknologi apapun yang
digunakan, tahap pertama tetaplah harus demikian
pula adanya.
Tomei (2003)
menulis bahwa sebuah pembelajaran berbasis teknologi dimulai dengan informasi-informasi berikut ini
:
a.
Tema : Pilihlah tema
yang mencerminkan kurikulum yang
akan diajarkan.
b.
Kesesuaian Tingkat Pembelajaran: Tentukan target yang harus dicapai oleh para pembelajar dan pengetahuan dasar
yang dibutuhkan oleh siswa sebelum memulai pelajaran
c.
PanjangWaktuBelajar :
Unit-unit tematik seringkali menghabiskan lebih dari satu periode kelas.
d.
Fokus:Buatlah sebuah pernyataan fokus pendek
yang menyimpulkan garis besar keseluruhan dari
unit dan topik-topik bagian
yang akan digali.
E.
Teori-teori Manajemen
Dalam
perkembangan teori manajemen, dikenal tiga teori manajemen, yaitu; teori
klasik, tori neo klasik, dan teori modern.
a.
Teoriklasik, berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional,
berfikir logik, dan kerja merupakan suatu
yang diharapkan.
b.
Teori neo klasik, berasumsi bahwa manusia itu makhluk sosial dengan mengaktualisasikan dirinya.
c.
Teori modern, pendekatan modern berdasarkanhal-hal yang sifatnya situasional,
artinya orang menyesuaikan diri dengan situasi
yang dihadapi dan mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan.
Asumsinya bahwa orang itu berlainan dan berubah baik kebutuhannya, reaksinya,
tindakannya yang semuanya bergantung pada lingkungan.
Teori modern dengan pandangan sistem memandang organisasi itu terbuka
(open system) dan kompleks.
Tiga unsur pokok,
yaitu analisis sistem,
rancangan sistem, dan manajemen memberi petunjuk dalam mengoperasionalkan pendekatan sistem.[3]
F.
Kontribusi Teori Manajemen dalam Teknologi Pendidikan
Dalam kajian
teknologi pendidikan, teori manajemen mengalami proses perekembangan. Pada
awalnya manajemen dipandang penting untuk mengawasi proses dan hasil
pembelajaran di lingkungan sekolah. Pada tahun 1972, manajemen dipandang sebagai
supervisi personel dan pengelolaan organisasi. Kemudian pada tahun 1977
manajemen dipandang sebagai proses pengembangan Instruksional dan sistem
pembelajaran berbasis teknologi (AECT, 1977).
Dari paparan di
atas dapat disimpulkan bahwa manajemen dalam teknologi pendidikan adalah suatu
proses pengelolaan desain instruksional (desain pembelajaran) yang mencakup
proses perencanaan, koordinasi, organisasi dan supervisi sumber, informasi, dan
sistem pembelajaran.
Adapun kontribusi
teori manajemen dalam teknologi pendidikan dapat dilihat pada program manajemen
dalam teknologi pendidikan antara lain; manajemen proyek, manajemen sumber,
manajemen personal, dan manajemen program.
Adapun fungsi
manajemen proyek dalam pendidikan adalah proses perencanaan, monitoring, dan
pengendalian proyek desain dan pengembangan desain instruksional. Sedangkan
fungsi manajemen sumber adalah perencanaan, pemantauan, dan pengendalian sistem
pendukung dan pelayanan sumber (sumber mencakup personil keuangan, bahan baku,
waktu, fasilitas, dan sumber pembelajaran). Fungsi manajemen personal adalah
menyiapkan orang-orang yang ahli dalam pengelolaan berbagai sumber belajar.
Sedangkan manajemen program berfungsi sebagai supervisi dan kontrol/pengawasan
terhadap seluruh aktivitas manajemen sebelumnya, agar proses manajemen
pengelolaan desain instruksional tersebut dapat berjalan efektif dan efisien.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa kontribusi teori manajemen dalam teknologi pendidikan adalah
sebagai pengelola teknologi pendidikan, adapun proses manajemen tersebut
berperan dalam konteks manajemen desain instruksional.
G.
Macam-macam Teknologi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan
1.
Sistem berpikir
Sistem berpikir menjadikan kita untuk
lebih hati-hati dengan munculnya tiap mode di dunia pendidikan. Tanpa sistem
berpikir kita akan sulit untuk mengadakan peningkatan riil di bidang
pendidikan. Jadi sistem berpikir menghadirkan konsep sistem yang umum, dimana
berbagai hal saling terkait.
2.
Desain sistem
Desain sistem adalah teknologi merancang
dan membangun sistem yang baru. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang
cepat yang meningkatkan harapan. Desain sistem memberi kita peralatan untuk
menciptakan suatu system yang baru dan suatu strategi untuk perubahan.
3.
Kualitas pengetahuan
Mutu atau kualitas pengetahuan merupakan
teknologi yang memproduksi suatu produk atau jasa/ layanan yang sesuai harapan
dan pelanggan. Ilmu pengetahuan yang berkualitas telah menjadi alat yang sangat
berharga dalam inovasi pendidikan/ sekolah.
4.
Manajemen Perubahan
Manajemen perubahan adalah suatu cara
untuk memandu energi kreatif ke arah perubahan positif.
5.
Teknologi pembelajaran
Disini ada dua bagian yaitu peralatan
Pelajar elektronik (Komputer, multimedia, Internet, telekomunikasi), dan
pembelajaran yang didesain, metode dan strateginya diperlukan untuk membuat
peralatan elektronik yang efektif.. Jadi teknologi pembelajaran adalah sistem
pemikiran yang berlaku untuk instruksi dan belajar.
H.
Aplikasi Teknologi Manajemen dalam Pemecahan Masalah Pembelajaran[4]
Pembelajaran
merupakan proses interaksi pendidik dan pembelajar, di dalam interaksi tersebut
akan terjadi proses transformasi pengetahuan, nilai, dan budaya. Pendidik
(guru) adalah seorang manajer dalam kelas, pendidiklah yang bertanggung jawab
dalam melakukan proses pengelolaan baik pra pembelajaran, proses pembelajaran
di dalam kelas hingga pasca pembelajaran, maka pendidiklah yang berusaha
mencari solusi dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang timbul.
Penerapan
manajemen Instruksional merupakan salah satu cara seorang pendidik mampu
menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Penerapan manajemen dapat
dilakukan dengan mengelola desain Instruksional yang efektif, yaitu dengan
merumuskan tujuan yang yang berpusat pada pengembangan kognitif, afektif dan
psikomotorik pembelajar, mengembangkan dan memanfaatkan media pembelajaran yang
bervariatif dan efektif, mengembangkan strategi pembelajaran, dan memanfaatkan
aneka sumber belajar, serta menyusun rancangan evaluasi yang efektif.
Disamping itu, manajemen
juga dapat diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melakukan
pengelolaan kelas, misalnya pengaturan tempat duduk, ventilasi, pengaturan
penyimpanan barang-barang, menciptakan suasana sosio-emosional, dan menciptakan
kondisi organisasional.
Dalam
pengelolaan pembelajaran, teknologi manajemen dimanfaatkan dalam mengembangkan,
merancang, dan melaksanakan strategi pembelajaran dengan pola sistem belajar
mandiri dengan memanfaatkan belajar dengan bantuan komputer, belajar jarak jauh
(distance learning), belajar melalui modul, belajar terbuka (open learning),
dan pola-pola pembelajaran lainnya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam
desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli.
Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model
berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model
prosedural dan model melingkar. Model berorientasi kelas biasanya ditujukan
untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap
dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah model assure.
Model
berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkann suatu
produk, biasanya media pembelajaran, misalnya video pembelajaran, multimedia
pembelajaran, atau modul. Contoh modelnya adalah model hannafin and peck.
Satu
lagi adalah model beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk
menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain
sistem suatu pelatihan, kurikulum seiolah, dan lain-lain. contohnya adalah
model addie. Selain itu ada pula yang biasa kita sebut sebagai model prosedural
dan model melingkar. Contoh dari model
prosedural adalah model Dick and Carrey, sementara contoh model melingkar
adalah model Kemp.
Adanya variasi
model yang ada ini sebenarnya juga dapat menguntungkan, beberapa keuntungan itu
antara lain adalah dapat memilih dan menerapkan salah satu model desain
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik yang dihadapi di lapangan, selain
itu juga, dapat dikembangkan dan dibuat model turunan dari model-model yang
telah ada, ataupun juga dapat diteliti
dan dikembangkan desain yang telah ada untuk dicobakan dan diperbaiki.
B.
Saran
Berdasarkan pemaparan
dari makalah kami diatas maka pemakalah akan memberikan saran kepada pembaca bahwa teknologi sangat
pentimg bagi kehidupan dan membantu juga dalam pembelajaran di pendidikan kita
sehari-hari. Sekian dari makalah kami masih banyak kesalahan dan kekurangan
dalam penulisan makalah ini, untuk itu penulis mengharapkan kepada teman-teman
dan dosen pembimbing agar dapat memberikan kritikan dan saran agar bisa menjadi
lebih baik lagi dari sebelumnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.
Daftar isi
Abdul Majid.
Percenanaan Pembelajaran. (Bandung: Remaja Rosdakarya). 2011.
Bambang
Warsita,Teknologi Pembelajaran dan Landasan Aplikasinya.Jakarta: Rieneka
Cipta.2008
Hajriana.
Landasan Teori dan Teknologi Manajemen. http://hajrianawarnadunia.blogspot.co.id/2009/12/landasan-teori-dan-teknologi-manajemen_14.html
Harjali,
Teknologi Pendidikan,Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2000
Hasbullah.
Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persad 2005.
Nanang
Fattah. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006.
Yusufhadi
Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.2004
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195705101985031-ENDANG_RUSYANI/DESAIN_PEMBELAJARAN.pdf. 15 Oktober 2015.
[1]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya), 2006, hlm.3.
[2]Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada), 2005, hlm. 2.
[3]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya), 2006, hlm. 22-28
[1] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta),
2008, Hlm.23.
[2] Abdul Majid, Percenanaan Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya),
2011, Hlm.32.
[3] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta),
2008, Hlm.23
[1] Bambang Warsita,Teknologi Pembelajaran
dan Landasan Aplikasinya.Jakarta: Rieneka Cipta.2008. hlm 25
[3] Bambang Warsita,Teknologi Pembelajaran dan Landasan
Aplikasinya.Jakarta: Rieneka Cipta.2008. hlm 25